BenQ Knowledge Center

Bagaimana Kita Mendefinisikan Warna 'Akurat'?

2021/03/06

Bagaimana Kita Mendefinisikan dan Menghitung Warna 'Akurat'? Sebelum memasuki topik ini, mari kita gali alasan pentingnya warna bagi fotografer, desainer, profesional pengambaran, orang-orang di industri tekstil, dsb.

Ketika kita mencoba menjelaskan suatu warna, cara yang paling umum adalah merujuk pada objek dengan warna yang dibayangkan. Misalnya, ketika kita menggambarkan warna ‘merah’, orang biasanya akan menggunakan ‘apel’. Lihat Gambar 1, setidaknya ada tujuh warna 'merah' yang berbeda antara apel. Belum lagi yang terakhir; warnanya sama sekali bukan merah! Oleh karena itu, ada perbedaan saat kita menggunakan objek untuk menggambarkan warna dan perlu mencari cara untuk mengurangi perbedaan dalam komunikasi.

Gambar 1: Berbagai varietas apel

Manusia cenderung menggunakan ‘angka’ untuk menunjukkan pengukuran yang akurat. Cara untuk mengungkapkan warna dalam bentuk numerik menjelaskan warna A dan warna B sama karena memiliki nilai numerik yang sama. Pada 1913, CIE (Commission Internationale de l‐Eclairage) mendefinisikan Nilai Tristimulus (nilai XYZ) untuk mengukur warna yang dapat dilihat manusia. Nilai-nilai XYZ dibentuk dengan mengalikan tiga atribut berikut: distribusi daya spektral sumber cahaya, pemantulan objek, dan fungsi Pengamat Standar untuk menjelaskan karakteristik sistem visual manusia. Hasilnya, ketika warna A dan warna B memiliki nilai XYZ yang sama, kita dapat mengatakan warna A dan warna B terlihat sama.

Gambar 2: Formula untuk menghitung nilai XYZ

Keuntungan lain mendefinisikan warna dalam nilai numerik adalah kita dapat mengekspresikan warna dalam diagram dengan sistem koordinat dan membentuk ruang warna. Gambar 3 menunjukkan CIE 1931 diagram xy chromaticity, yang mewakili semua warna yang dapat dilihat manusia. Akan tetapi, diagram ini tidak benar-benar mencerminkan sensitivitas sistem visual manusia. Misalnya warna biru dan hijau. Manusia sangat sensitif terhadap warna biru dan kurang peka terhadap hijau: jika ditambahkan sedikit warna merah maka warnanya berubah menjadi ungu, dan sedikit warna hijau berubah menjadi cyan. Fenomena ini tidak tecermin pada Gambar 3. Hasilnya, pada 1976, diagram u’ v’ chromaticity dibuat untuk mencerminkan sensasi sistem visual manusia.

Gambar 3: Diagram CIE 1931 xy chromaticity

Gambar 4: Diagram CIE 1976 u’v’ chromaticity

Sekarang, kita telah mendefinisikan sistem untuk menjelaskan warna dalam bentuk numerik.

Bagaimana Kita Mengukur Warna?

Kita dapat menggunakan penggaris untuk mengukur panjang, dan menggunakan skala untuk mengukur bobot warna. Saat kita mengukur warna, kita perlu mengukur cahaya terlebih dahulu. Dalam mengukur cahaya tidak semudah menggunakan penggaris atau skala, tetapi kita dapat menggunakan spektroradiometer untuk mengukur distribusi daya spektral cahaya.

Namun, instrumen ini berukuran besar dan mahal, dan tidak mudah dibawa-bawa. Oleh karena itu, perangkat yang lebih sederhana yaitu ‘colorimeter’ dapat mengukur cahaya melalui serangkaian filter XYZ, sehingga kecepatannya lebih cepat dari spectroradiometer, tetapi dengan akurasi yang lebih rendah.

*Filter XYZ: Filter optik untuk meniru karakteristik optik dari nilai XYZ (nilai tristimulus) dalam hal transmitans per gelombang.

Seperti yang dinyatakan sebelumnya, saat kita memiliki serangkaian nilai XYZ dengan angka yang sama, kita bisa mengatakan warna ini terlihat sama. Namun ada kalanya nilai XYZ tidak sama tetapi terlihat sangat serupa. Misalnya, saat kita melihat cahaya terang di ruangan yang terang versus lampu redup di ruang yang redup, nilai XYZ yang terukur tidak sama (karena intensitas cahaya yang berbeda, namun kita masih melihat warna terang yang sama. Ini disebabkan oleh adaptasi sistem visual kami. Skenario lain adalah membandingkan warna dari media yang berbeda. Misalnya, satu dari monitor dan satu dari kertas hasil pencetakan. Oleh karena itu, kami membutuhkan metrik lain untuk mengukur fenomena adaptasi ini. Ruang warna L*a*b* (ditunjukkan pada Gambar 5) dibuat untuk tujuan 'normalisasi' ini. Hal ini mendefinisikan tingkat cahaya yang paling terang dalam suatu scene atau media (misalnya kertas) sebagai 100, dan menormalkan semua warna lainnya di adegan atau media sesuai dengan cahaya yang paling terang. Hasilnya, sekarang kita dapat membandingkan cahaya dengan intensitas atau warna berbeda dari media yang berbeda.

Gambar 5: Ruang Warna L*a*b*

Ketika kita melihat dua warna yang serupa, tetapi warnanya sedikit berbeda, kita akan bertanya-tanya seberapa dekat warna ini? Tanpa menggunakan nilai numerik untuk mewakili warna, kita bisa saja mengatakan “hampir mendekati”. Dengan ruang warna XYZ atau ruang warna L*a*b*, kita dapat menghitung perbedaan jarak antara dua warna dan perbedaan nilai dapat diperoleh. Perbedaan nilai ini disebut ‘Perbedaan Warna’.

Rekomendasi Produk

Versi paling sederhana dari formula perbedaan warna disebut delta E* 76 ( delta E*ab).

Tahun 1994, formula yang lebih kompleks digunakan dalam industri seni grafis dan tekstil disebut delta E* 94.

Tahun 2000, para peneliti mengembangkan formula perbedaan warna yang lebih baru untuk mencerminkan apa yang dirasakan oleh sistem visual manusia. Ini disebut delta E*2000 (delta E*00). Karena sejumlah besar penelitian riset untuk mencapai korelasi tinggi antara nilai yang dihitung dan persepsi manusia, delta E*00 sekarang menjadi Standar Internasional, dan disarankan untuk digunakan dalam semua pekerjaan penelitian ilmiah.

Seperti yang telah kita lihat dalam formula di atas, dua rangkaian nilai L*a*b* diperlukan untuk menilai akurasi warna tertentu dengan menggunakan instrumen yang disebutkan sebelumnya. Nilai 'yang ditentukan' atau 'standar' dapat diperoleh dengan menggunakan bagan standar (Gambar 6). Bagain ini dapat digunakan sebagai refernsi karena Bagan ini telah mendefinisikan nilai L*a*b* untuk semua warna dalam bagan, dan setiap bagan dibuat dengan sangat teliti untuk memenuhi toleransi yang nilai nya tidak akan berubah.

Untuk menilai akurasi warna, delta E*00 sering digunakan. delta E*00 < 1,00 berarti tidak ada perbedaan bagi para ahli ketika membandingkan dua warna berdampingan. Delta E*00 < 3,00 berarti tidak ada perbedaan signifikan bagi orang biasa. (Para ahli berarti ahli ilmu warna atau fotografer berpengalaman, perancang, profesional pengambaran, dll.)

Ringkasnya, kita telah mempelajari cara menggunakan angka untuk menentukan warna dan alasan di baliknya, mengidentifikasi perbedaan antara setiap ruang warna, seperti XYZ dan L*a*b*. Dan terakhir, kita mempelajari cara untuk mengukur warna, dan cara menentukan perbedaan warna. Dengan menggunakan nilai delta E*00, kita dapat menilai apakah warna tersebut akurat atau tidak.

Gambar 6-1: Bagan PemeriksaWarna Klasik X-rite

Gambar 6-2: Bagan SG PemeriksaWarna Digital X-rite

Artikel Terkait

Jadilah yang pertama mengetahui tentang produk BenQ, promo, dan event

Beritahu kami produk yang Anda minati, apabila tidak menemukannya di kota Anda

TOP